Jumat, 15 Mei 2020

Sajak September


Hanya ada anyir darah, darah, dan darah
serta mata yang kian memerah
di hadapan kastel nan megah
tangan terkepal itu, setia,
menunggu dekrit sang raja

1
Kurukshetra [1] yang baru saja kudengar, seperti dejavu[2]
tragedi dua puluh satu tahun lalu, belum usang dari ingatanku
Kini kubiarkan hatiku membara di semesta
dan kuabaikan kerawanan di pelupuk mata
 
2
Terberkatilah! Para demonstran yang menagih satir[3] itu
Pekiknya adalah suara resah manusia pada ketimpangan yura
manakala membiarkan tikus gentayangan seperti hantu
Lihatlah!
Raganya siap membeku, dihujani gas air mata
bahkan berkalang tanah, ditimpa sebutir peluru

3
Demokrasi, kawan semasa hidupnya
betapa lega mayat politik itu menuju keabadian di jagad raya
sebab telah ia getarkan gelombang suara tanpa aba-aba,
merembet begitu saja ke belantara tak berpeta.
Kini sabdakan padanya dengan bestari,
wahai raja yang gemar mendikte bala tentara, dan yakinkan dirinya
bagaimana melontar kritik tanpa syak wasangka?

4
Sebab kali ini tidak ada jeda, kurukshetra
meyakinkannya bahwa kesetaraan harus ditegakkan.
Kini terimalah persembahan jiwa yang gundah ini
untuk melindungi ibu pertiwi


[1] Padang pertempuran baratayuda—untuk mengibaratkan konfrontrasi di negeri ini.
[2] Pernah dilihat (bahasa Perancis).
[3] Sumpah

Di Atas Sebuah Kapal


Entah sudah berapa lama, ombak menukil bagian jiwaku. Lebur bersama samudera. Bergerak-gerak mengikuti butiran buih. Tegak berdiri, menatap teropong angin, yang melarikan separuh kornea. Di sana, mecusuar mengerat kilau di hati. Dermaga megah melambai perih. Memaksa sekata rindu terlempar menebas karang nun jauh.

Tetapi, dindingku telah koyak. Tiada lagi teduh. Lenyap segala hijau. Sungai tidak lagi mengalir tenang menyejuki hulu dan hilir. Dan atapnya pun tak mampu menyelaputi aroma panas. Isinya, berhamburan, cerai berai, laksana merapi memuntahkan bara, lantas meluluhlantakan hamparan bumi.

Dan kini, kapalku karam. Mencium terumbu karang. Aku menyelesak keluar. Bercumbu pada ribuan ikan. Menanggalkan daratan, karna kedalaman ini tempatku pulang.

Cirebon, 24 Agustus 2015

Ketika Ramadan Tak Seperti Biasanya


Ramadan ini, orang kerap mengupacarakan kecemasan
Mengayun langkah sembunyi-sembunyi dalam kegelapan
Alpa dari tadarusan, apalagi pengajian
Dicekam ketakutan sembahyang di rumah peribadatan
Menaruh syak wasangka pada kerumunan

Ramadan ini, sesunyi tiba
Tak ada orang bercengkerama usai berbuka
Portal-portal mengunci desa
Gema azan sayup-sayup saja
Tradisi silaturahmi jejak semata

Apakah sebab engkau corona?
Wewangi ramadan samar tercium di semesta
Kekhawatiran mencipta jarak antarmanusia
Curiga menyandera jiwa
Duka mengabut di sebagian dunia

Apakah sebab engkau corona?
Kelindan warna senja kala ramadan tak lagi jadi surga bermain bagi anak-anak kita
Gaduh petasan hanya dongeng belaka
Derap kaki nan riang berlarian menuju musala tinggal kenangan semata
Kenangan yang jadi candu kerinduan sebab ramadan sudah tak seperti biasanya

Walau demikian,
Kudekap erat ramadan
Sebab berkahnya adalah cahaya kehidupan

Pangkah, 25 April 2020

Kelindan Ramadan

hujan bulan ini mereda
suhu dingin tak berangin
kristal es menggantung di udara
lalu, dari kaki langit, muncul pilar cahaya
sebagai penanda ramadan tiba
ramadan ialah keberkahan
sebab pintu nirwana dibuka, neraka sirna
ampunan dibentang seluas-luasnya
pahala serupa bonus buruan manusia
lampu penghidupan bertandang dari mana saja

ramadan serupa kebajikan bagi insan khalifah
dari dermawan tua dengan secangkir kopi manis untuk dhuafa
borjuis yang tiba-tiba mendermakan separuh hartanya kepada rakyat jelata
atau kaum jet set yang berbondong-bondong menanggalkan kemewahannya

ramadan, bisa jadi sebuah keriangan
sebab anak-anak senang bermain sewaktu terang bulan
berlarian di jalan-jalan kampung sambil bergandeng tangan
meledakkan gelas bekas air mineral diselingi gurauan
menanti tarawih dengan selawatan
serta merapal ayat-ayat Alquran hingga larut malam

jadi,
apa kau siap memaknai bulan suci ini?
sebab ramadan tak hanya soal menahan lapar dan dahaga
tak hanya tentang menafikan kesucian diri sementara kau masih menunda
membunuh ketakaburan, kedengkian, kesombongan
dan noda-noda lain yang mengabut di hati

barangkali
dengan sedikit bersabar mengekang hasrat
kau bisa menatap cahaya
menghirup wewangi ramadan
merasai kesejukan
menekan sujud
meyakini kebenaran akan karunia Tuhan

Pangkah, 25 April 2020

Suatu Isyarat (Mengenang gempa padang)


Ada sesuatu
Yang perlahan melesat ke ujung tangan
Diam-diam memerah dan memanas
Saat tak lagi bersimbah pada porosnya

Ada sesuatu
Yang rasanya mulai meragukan
Tatkala memuntahkan isinya

Ada sesuatu
Yang pelik dan lara
Melengkingkan nyanyiannya
Dan menyumbat pori-pori hati

Lihatlah,
Betapa tanah yang terpijak kini rapuh

Sampah memompa limbah
Limbah memompa panas
Panas menyedot iklim
Iklim memancing lempeng
Lempeng menggeser kerak bumi
Mata telah buta melihat isyarat
Dia murka
Dia letih dengan segala laku kita
Dia menegur dengan firman-Nya
Allah
Jiwa - jiwa bukanlah kristal yang indah
Allah
Ampunkanlah kami
Atas nama ruh yang tersedot paksa
dari pusara kehidupan

Ada sesuatu
yang menggoncang seluruh tubuh
dan tak mampu menegakkan kaki
menguaplah aliran darah

Kamis, 14 Mei 2020

Melati dalam Lipatan Ingatan

Kukatakan sudah, usah kau untai lagi melati itu. Tak akan pernah tercium wanginya. Meski kau dekatkan, melati hanya helaian mahkota yang kan pupus jua. Mending kau tanam lagi, tapi jangan untukku.

Kukatakan cukup, tak perlu kau pasang melati di rambutku. Itu cuma imaji lampau atau dongeng usang tentang belati pangeran yang tertinggal di sini, di dekat pendopo. Saat kau pernah tumpahkan satu keranjang melati.

Kukatakan lepas, biarkan melati bertumbuh di padang baru. Usah kau sesali, bila dulu melati tak berbunga di ranah semestinya, bila dulu tak kau kunci pesonanya. Sebab, semua adalah kehendak semesta.

Lalu …
Denyut waktu beranjak …
Kutemukan kau di sudut kota yang retak; pada dinding-dinding rindu yang sesak; dalam jantung berdetak.
Tetapi tak ada kata
ataupun tangkai melati di kornea
Entah aku
Entah kau
Tak juga berhenti menjelmakan hujan yang terus berjatuhan
menghujam sisa-sisa melati di lipatan ingatan

Kamis, 08 November 2018

Separuh Hati yang Masih Tertinggal di Lembar Kertas Itu

Lembar kertas itu; masih saja kau genggam. Bahkan, enggan kau lepas. Atau mungkin kau hanguskan di perapian. 

Gambar terkaitKutanya mengapa; katamu : Ini satu-satunya milikmu.

Lembar kertas itu; masih saja kau belai. Kau cinta. Layaknya kekasih sejati yang tak pernah kau benci.

Kutanya mengapa; katamu : Ini kenanganmu.

Lembar kertas itu; masih saja kau sayang. Tapi tak pernah kau kemas dalam buku. Kau terus menatapinya; meskipun ia abaikan tatapmu.

Kutanya mengapa; katamu : Suatu hari kamu membutuhkannya.

Lembar kertas itu; masih saja kau selimuti. Terus kau hangatkan dengan tubuh yang mulai membeku.

Kutanya mengapa; katamu : Ini setengah hatimu.

Lalu,

Angin datang; menyibak kabut; menghalau pepohonan yang dulu menutupi pandangan. Katamu : Aku akan menjaganya untukmu.